PDB Growth
5.11%
▲ Q1 2026 · BPS
Inflasi CPI
3.08%
↓ Mei 2026 · BPS
BI Rate
5.25%
↑ Naik darurat +50bps Mei 2026
USD / IDR
18.039
▲ ATH baru Jun 2026
Yield 10Y SBN
6.84%
↑ Naik pasca RDG Mei
Defisit APBN
~3.7%
⚠ Proyeksi melampaui 3%
Rupiah tembus Rp18.039/USD — melemah 10.2% YTD, ATH sepanjang sejarah BI Rate naik darurat 50bps ke 5.25% — siklus hiking baru dipicu gejolak Timur Tengah Kurva yield semi-flat, yield 3Y (6.80%) mendekati 10Y (6.84%) Defisit APBN Q1 2026 proyeksi 3.7% PDB — melampaui batas UU 3% Cadangan devisa Mei 2026 turun 5 bulan beruntun ke USD 144.9 miliar BI burden-sharing SBN — independensi fiskal-moneter dipertanyakan
IHSG7.021-1.4%
USD/IDR18.039+10.2% ytd
EUR/IDR20.860+5.1%
SBN 10Y6.84%+0.26
SBN 1Y6.40%+0.25
SBN 3Y6.80%+0.18
Spread 10Y-1Y+0.44%⚠ Sangat tipis
Emas IDR/g1.982.000+18% ytd
Brent$102▲ vs asumsi APBN $70
BI Rate5.25%↑ +50bps darurat
Sinyal risiko Kompas, ANTARA, Saham Daily, UMY — Jun 2026
⚠ Risiko tinggi — pantau ketat
Rupiah menembus Rp18.039/USD — ATH baru
Melemah 10.2% YTD, menembus Rp18.000 untuk pertama kali. Setiap Rp100 pelemahan = +Rp800M defisit. Beban utang LN membengkak otomatis tanpa tambah utang baru. Tekanan utama: gejolak Timur Tengah + harga minyak tinggi.
Defisit APBN proyeksi 3.7% PDB
Melampaui batas UU 3%. Harga minyak ICP $102 vs asumsi APBN $70. Setiap kenaikan $1/barel = +Rp6.8T defisit. Risiko downgrade rating kredit.
BI Rate naik darurat 50bps → 5.25%
RDG 19–20 Mei 2026 memutuskan kenaikan 50bps, melampaui ekspektasi pasar. Siklus penurunan rate (Sep 2025–Mar 2026) berbalik arah total. Risiko perlambatan kredit dan tekanan sektor properti.
BI burden-sharing SBN aktif
BI menanggung sebagian bunga SBN untuk program Asta Cita. Mempertanyakan independensi bank sentral, berpotensi inflasioner jangka panjang.
⚡ Risiko menengah — perhatikan tren
Yield curve semi-flat/mendekati inverted
Spread 10Y–1Y hanya +0.43%. Yield 3Y (6.62%) mendekati 10Y (6.58%). Historis: flattening = sinyal perlambatan ekonomi 12–18 bulan ke depan.
Belanja modal APBN turun ke 8.7% (dari 16.5% di 2017)
Ruang untuk investasi infrastruktur menyempit. Daya ungkit APBN terhadap pertumbuhan melemah struktural.
Utang LN pemerintah USD 214.7 miliar
Ekspansi masif 16 tahun terakhir. Mayoritas denominasi USD. Rupiah lemah = beban langsung membengkak.
PDB Nominal
Rp22.1T
▲ +5.11% yoy
Inflasi (Mei 2026)
3.08%
▼ turun dari 3.48%
Pengangguran
4.85%
▼ -0.41pp yoy
Kemiskinan
9.03%
▼ -0.33pp yoy
Neraca dagang
+$37B
Surplus 44 bulan
Cadangan devisa
$144.9B
▼ 5 bln beruntun · 5.6 bln impor
Pertumbuhan PDB vs Inflasi (2019–2026)
PDB YoY (%) Inflasi (%)
Komposisi PDB per sektor (2025)
Kebijakan moneter Bank Indonesia · Trading Economics
BI Rate (%)
Kurs USD/IDR
Cadangan devisa (USD miliar)
Pasar obligasi — yield curve SBN Trading Economics · PHEI · Jun 2026
Pasca kenaikan BI Rate 50bps (Mei 2026), yield SBN mengalami repricing signifikan. Yield 10Y naik ke 6.84%. Spread 10Y–1Y hanya +0.44%. Siklus hiking baru yang dipicu perang di Timur Tengah + pelemahan rupiah melampaui Rp18.000.
Kurva yield SBN — sekarang vs 1 tahun lalu
Jun 2026 Apr 2025
Spread yield 10Y–2Y dan 10Y–1Y (%)
10Y–1Y 10Y–2Y
⚠ Area merah = zona negatif (inverted). Spread tipis = sinyal perlambatan ekonomi.
Kondisi fiskal Kemenkeu · BI SULNI · ANTARA
Tren defisit APBN (% PDB)
Garis merah = batas UU 3% PDB. 2026 proyeksi melampaui batas.
Utang luar negeri pemerintah (USD miliar)
Porsi belanja modal APBN vs total belanja (%) — tren menurun struktural
⚠ Porsi belanja modal turun dari 16.49% (2017) → 8.70% (2026). Ruang fiskal untuk pertumbuhan semakin sempit. — Sumber: ANTARA / NEXT Indonesia Center, Jun 2026
Perdagangan internasional BPS · USD miliar
Ekspor vs Impor (USD miliar)
Ekspor Impor
Tujuan ekspor utama (% share, 2025)
Perbandingan ASEAN-6 IMF WEO Apr 2026 · Trading Economics
Negara PDB Growth Inflasi Suku bunga PDB/kapita Utang/PDB Defisit/PDB
Sumber data independen
Data real-time & historis